ACEH TAMIANG,HARIANLIPUTAN7 – Momentum silaturahmi pada Hari Raya Idul Fitri keempat menjadi lebih bermakna saat kunjungan keluarga dilakukan ke Kampong Air Tenang, Kecamatan Karangbaru, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (24/3/2026). Di balik suasana lebaran yang penuh kehangatan, tersimpan kisah pilu masyarakat yang hingga kini masih dihantui kenangan banjir besar pada 26 November 2025 lalu.
Kunjungan yang awalnya bertujuan mempererat tali persaudaraan berubah menjadi ruang berbagi cerita dan empati. Warga setempat masih mengingat jelas bagaimana banjir datang secara tiba-tiba, merendam pemukiman, menghancurkan harta benda, serta melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Salah satu warga, Ismanto, menuturkan bahwa peristiwa tersebut menjadi pengalaman paling berat dalam hidupnya. Ia mengisahkan bagaimana air naik dengan cepat hingga mencapai ketinggian sekitar empat meter di rumahnya, memaksa dirinya dan keluarga menyelamatkan diri hanya dengan pakaian yang melekat di badan.
“Banjir itu datang begitu cepat. Kami tidak sempat menyelamatkan apa-apa. Semua isi rumah rusak, tidak ada yang bisa digunakan lagi. Sampai sekarang kami masih berusaha bangkit,” ungkap Ismanto dengan nada haru.
Menurutnya, dampak banjir tidak hanya dirasakan saat kejadian, tetapi juga berlanjut hingga kini. Banyak warga kehilangan sumber penghasilan, usaha kecil terhenti, serta lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup ikut rusak.
“Kondisi ekonomi kami menurun drastis. Butuh waktu dan bantuan untuk bisa pulih seperti semula,” tambahnya.
Meski berada dalam keterbatasan, semangat warga Kampong Air Tenang untuk bangkit tidak pernah padam. Mereka terus berdoa dan berikhtiar agar kondisi segera membaik, sembari berharap adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak guna mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.
“Harapan kami, semoga Allah memberikan kekuatan dan jalan keluar, serta ada bantuan untuk membantu kami bangkit kembali,” harap Ismanto.
Suasana silaturahmi yang berlangsung sederhana namun penuh makna itu menjadi pengingat bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kepedulian dan solidaritas sosial.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa di balik kebahagiaan lebaran, masih ada saudara-saudara yang tengah berjuang memulihkan kehidupan. Kebersamaan dan dukungan nyata dari berbagai pihak diharapkan dapat menjadi kekuatan bagi warga untuk kembali menata masa depan yang lebih baik. (Ibnu Sabil)



